Tampilkan postingan dengan label Khotbah Jumatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khotbah Jumatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 November 2010

Menjadi Lebih dari yang Kita Impikan

Banyak orang yang berkata bahwa seseorang tidak harus menjadi sarjana agar dapat menghasilkan uang banyak. Mendengar hal itu kadang memupuskan semangat belajar kita sebagai mahasiswa. Tetapi lihat para sarjana yang telah berhasil menyelesaikan kuliah. Pikiran mereka begitu terasah karena mereka dibiasakan untuk selalu belajar dan menyelesaikan berbagai masalah dengan pola pikir mereka yang bertumbuh selama masa kuliah, bahkan masalah yang sebelumnya belum pernah ada. Orang-orang semacam inilah yang akan dipakai Tuhan. Tuhan tidak akan menggunakan orang-orang yang berpikiran tumpul untuk melakukan perkara-perkara yang besar, namun orang-orang cerdas.

Kita juga harus memiliki visi, mimpi, atau bisa kita sebut impian. Firman Tuhan mengatakan bahwa Yusuf, yang awal mulanya hanya seorang gembala, mampu menjadi salah seorang pemimpin yang besar di Mesir. Ini semua berawal dari mimpi-mimpi Yusuf. Ia melihat bahwa dirinya akan menjadi seseorang yang besar! Mimpi ini membuatnya dibenci saudara-saudaranya, sehingga ia dijual sebagai budak ke Mesir oleh mereka. Tetapi lihat apa yang dilakukan Tuhan kepada Yusuf sewaktu di Mesir. Ia telah membuat Yusuf menjadi salah seorang andalan Firaun, menjadi orang penting dalam pemerintahan Mesir. Mimpinya telah menjadi kenyataan!

Tuhan tidak hanya mampu membuat kita menjadi seperti yang telah kita impikan namun juga dapat membuat kita menjadi “lebih” dari yang kita impikan. Efesus 3:20 berkata, “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” Namun bagaimanakah caranya? Roma 12:1-2 berkata, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Jadi, kita dapat menjadi “lebih” dari yang telah kita impikan dengan menyamakan kehendak kita dengan kehendak Tuhan. Lakukanlah sesuatu yang benar, yang mulia, dan yang suci, sesuai dengan kehendak-Nya, niscaya Tuhan akan melakukan perkara yang besar pada diri kita dan bersama-sama dengan kita.

Kamis, 04 November 2010

Home? Outside?

"Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian."
(Efesus 6:1)

Bagaimana hidup kita di dalam dan di luar rumah? Apakah kita terlihat baik di luar saja? Sebagai mahasiswa yang berintegritas, kita harus menunjukkan diri apa adanya. Memiliki hidup yang transparan artinya tidak ada perbedaan di dalam atau di luar rumah.

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang tema kita, mari kita pahami konteks surat Paulus kepada jemaat Efesus. Efesus terdiri dari 6 pasal dan surat ini merupakan rencana Tuhan kepada anak-anak-Nya.
Efesus 1-3 menjelaskan bagaimana kita ditebus Allah. Ada 3 tahap yaitu:

1.      Diselamatkan (Efesus 2:1-10)
Tuhan menyelamatkan kita karena ini merupakan awal rencana Tuhan. Keselamatan yang kita terima adalah anugerah. Keselamatan dapat kita peroleh, saat dosa kita sudah dihapuskan oleh darah Kristus.
2.      Disatukan (Efesus 2:14)
Tuhan sudah mempersatukan kita dengan Bapa. Dengan darah Kristus (Efesus 2:13), tembok pemisah telah dirubuhkan (Efesus 2:14), sehingga kita menjadi kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah (Efesus 2:19).
3.      Diutus (Efesus 3:10-11)
Kita diutus keluar untuk menyatakan Tuhan. Seperti tugas gereja, eklesia yang artinya dipanggil keluar.

Efesus 4-6 berisi tentang arahan praktis gereja, bagaimana hidup sebagai umat yang sudah ditebus, baik pribadi maupun dalam hidup bersama.

Kembali membahas tema kita. Dalam Efesus 6:1-4, ada 3 bagian yang dapat kita temukan, yaitu:
1.      Taat di dalam Tuhan (Efesus 6:1)
2.      Perintah yang penting (Efesus 6:2)
3.      Janganlah bangkitkan amarah (Efesus 6:4)

Kita sebagai anak mendapat perintah dari Tuhan, begitu juga orang tua kita. Kita harus taat dan hormat kepada orang tua kita, karena itu merupakan kewajiban. Orang tua kita juga diperintahkan Allah untuk tidak membangkitkan amarah dan mendidik kita dalam dalam ajaran Tuhan. Integeritas hidup dalam keluarga adalah buah dari pertumbuhan rohani kita. Dalam melakukan perintah-Nya, ingatlah itu adalah tujuan penebusan kita, yaitu "menjadikan Kristus sebagai kepala."

Jadi kalau hubungan kita dengan orang tua kita kurang baik, ampuni mereka. Berubahlah dengan pertolongan Tuhan.
GBU all...

Senin, 25 Oktober 2010

Pemimpin Berintegritas

(Filipi 4: 9)

Integritas (integrity) adalah bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai dan kebijakan organisasi serta kode etik profesi, walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukan ini. Dengan kata lain, “satunya kata dengan perbuatan”. Mengomunikasikan maksud, ide dan perasaan secara terbuka, jujur,  dan langsung sekalipun dalam negosiasi yang sulit dengan pihak lain. Terdapat empat contoh wujud dari integritas, yaitu: lurus, tulus, jujur dan dapat diandalkan.

Tentu saja semua wujud dari integritas ini ada dalam Yesus. Dan hal yang perlu kita lakukan sebagai anak Tuhan tentu saja adalah meneladani hidup Bapa kita ini (Filipi 4:9). Untuk menjadi pemimpin yang memiliki integritas, ada 4 hal utama yang harus kita imani:

1.      Kristus sebagai model
Model bukan berarti layaknya model dunia yang memperagakan busana seperti di televisi loh :p, tapi yang dimaksudkan dengan Kristus sebagai model adalah kita menjadikan Kristus sebagai model atau pedoman kita dalam menjalani hidup. Kristuslah sebagai panutan dan tolak ukur kita dalam melakukan sesuatu hal.

2.      Injil sebagai dasar
Layaknya memiliki dasar negara yaitu pancasila, yang menjadikan Indonesia berpegang pada pancasila demikian juga kita harus menjadikan injil sebagai dasar dan kita harus berpegang padanya.

3.      Tubuh Kristus sebagai tujuan panggilan
Kita sebagai anak Tuhan memiliki panggilan untuk melayani Tuhan dan sesama kita dengan tubuh kristus sebagai tujuan panggilan kita.

4.      Kehidupan menyerupai Kristus
Dari beberapa hal yang telah dibahas diatas dapat diambil kesimpulan bahwa hal yang perlu dilakukan untuk menjadi pemimpin berintegritas adalah memiliki kehidupan menyerupai Kristus dan berpegang pada firman-Nya.

Integritas bukan hal yang tidak mungkin untuk kita capai. Yang dibutuhkan adalah kerja keras dan doa agar Tuhan memberikan Roh Kudus turun atas kita sehingga kita dapat memiliki sikap integritas tersebut dalam diri kita. Jadi, sudah tahu apa yang harus dilakukan sekarang?? :) :)

Rabu, 20 Oktober 2010

Pelayan Cap Jempol

“Oleh Kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.”
(2 Korintus 4:1)

Untuk menjadi pemimpin sejati, seseorang tidak cukup hanya memiliki kharisma dan kecakapan dalam memimpin orang di bawah pimpinanya. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang melayani, bukan dilayani. Begitu juga dengan konsep pelayanan Kristen yang berdasar pada kekekalan. Pelayanan kita lakukan karena kita ciptaan Allah.


Pelayanan berdasarkan Perjanjian Baru mencakup 2 hal:
Doulos
,
yang artinya budak. Hidup kita diatur oleh Tuhan, menjadi budak Tuhan. Pada Efesus 2 10, Tuhan sudah menyiapkan pekerjaan buat kita sebelum kita lahir.
Diakonio
,
yang artinya pelayan. Di mana tugas kita melayani untuk orang lain. Pada 1 Petrus 4:10 terkandung arti bahwa, pertama, kita semua diciptakan Tuhan mempunyai karunia atau talenta, yang Tuhan berikan sesuai dengan kehendak-Nya. Kedua, Ayat ini merupakan perintah langsung: “Layanilah seorang akan yang lain.”
            Bagaimana pelayanan yang berintegritas? Apa kita sudah melayani sesuai dengan firman Tuhan? Karena pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan dasar pelayanan Kristen. Pelayanan yang sesuai firman Tuhan: 
Tidak tawar hati di tengah pergunjingan
Kita melayani Tuhan merupakan karunia dari Tuhan, bukan dengan kekuatan kita. Ada Roh Tuhan yang menghidupkan pelayanan yang kita lakukan. Namun, sebelum kita melayani, kita harus menerima Tuhan sebagiai Juru selamat karena kita sudah mendapatkan hidup sejati. Oleh karena itu, bangun hubungan spiritual dengan Tuhan dan miliki relasi yang intim dengan Tuhan. Maka kita akan memiliki dorongan dari dalam batin untuk melayani Tuhan. 
Melayani bukan untuk diri sendiri
Seperti yang tertulis pada 2 Korintus 4:7, Yohanes menganggap dirinya sebagai tanah liat yang akan dibentuk menjadi bejana. Tanah liat merupakan bahan yang rapuh dan mudah pecah. Yohanes menganggap dirinya lemah di hadapan Tuhan. Tuhan juga mengizinkan kita mengalami saat-saat lemah supaya kita bersandar kepada Tuhan. Di mana kita menyadari kelemahan kita, kita akan merendahkan diri, intropeksi diri kita di hadapan Tuhan.
Penutup, Matius 6: 1 dan 4 
Setialah melayani Tuhan, karena kita hidup di hadapan Allah, jangan kita melayani supaya dilihat orang. Mari kita melayani Tuhan karena kita sadar betapa baiknya Tuhan dalam hidup kita.
GBU all...

Selasa, 12 Oktober 2010

Integritas Daniel

“Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.” 
 (Daniel 1:8)

Pada jaman sekarang, teknologi kian berkembang pesat, menyebabkan manusia untuk memperoleh kemudahan-kemudahan yang tidak bisa didapatkan pada 5 atau 10 tahun ke belakang. Tapi kemudahan-kemudahan tersebut justru menyebabkan manusia kian tak bertanggung jawab. Lihat saja budaya copy-paste yang sering terjadi di kalangan mahasiswa. Dengan bangganya mereka mengatakan bahwa karya copy-paste mereka sebagai karya “orisinil”. Namun begitu pertanggungjawaban diminta, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak mengerti apa yang telah mereka tulis karena karya tersebut tidak mengakar di dalam otak mereka. Mereka tidak memiliki integritas.

Pada jaman Nebukadnezar, empat orang Yehuda dipilih untuk melayani raja di istana, tentunya bukan orang-orang yang sembarangan karena mereka adalah keturunan raja dan kaum bangsawan. Mereka adalah orang-orang yang juga memiliki kemampuan sepuluh kali lebih cerdas daripada orang-orang seangkatannya. Bukan berarti mereka bisa berbuat lebih seenaknya daripada orang-orang biasa tapi justru tanggung jawab mereka lebih besar. Salah satu dari empat orang itu adalah Daniel.

Daniel sebagai orang berintegritas mau bersaksi di dalam istana raja dengan tidak menyantap makanan-makanan lezat a la menu raja, namun ia lebih memilih untuk menyantap sayuran meskipun sayuran tersebut kalah menariknya daripada makanan raja. Ia mau menunjukkan kepada orang-orang yang tidak percaya bahwa Ia tidak mau menajiskan dirinya di hadapan Allah yang berarti pula menunjukkan rasa takutnya pada Allah. Dengan kesaksiannya tersebut, Daniel mendapat karunia Allah berupa kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana.

 Daniel dan ketiga kawannya juga saling berkomunitas agar dapat menjadi terang di dalam istana raja. Mereka saling mengolah diri dan belajar berintegritas serta menjaga integritas tersebut. Mereka bersama-sama bersaksi tentang Allah di dalam istana raja di mana hampir seluruh penghuninya tidak mengenal Allah.

Dari rangkuman khotbah Jumat kali ini ada tiga poin penting mengenai integritas yang dapat kita petik dari tokoh Daniel:
  1. Memiliki kemampuan/dasar untuk berintegritas (berpengetahuan);
  2.  Berani mengambil sikap dan tanggung jawab atas keputusannya;
  3. Mampu menghadapi dan memenuhi tuntutan yang besar.

Demikian rangkuman khotbah Jumat kali ini, semoga bisa menjadi berkat bagi kita semua. Amin.

Rabu, 06 Oktober 2010

Integritas Waktu

“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, dimana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.”
(Yohanes 9 : 4)

Waktu adalah salah satu bentuk dimensi yang dimiliki oleh setiap orang tanpa terkecuali. Setiap orang memiliki waktu yang sama, 365 hari setahun, 24 jam sehari, 60 menit setiap jam, dan seterusnya. Sehingga, dengan waktu yang dimilikinya, tiap orang dapat melakukan berbagai hal.

·         Beraktivitas
Allah selalu beraktivitas, Ia menciptakan langit dan bumi, Ia yang menciptakan kita, Ia yang mengatur kehidupan semua manusia di dunia ini. Begitu banyak pekerjaan Allah yang dapat kita rasakan. Ia menjadi contoh bagi kita. Sebagai pengikut Allah, kita tidak boleh hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Banyak pekerjaan menanti kita.
·         Berprestasi
Dengan waktu yang tersedia bagi kita, jangan sampai kita menyia-nyiakan karunia yang diberikan Allah. Masih banyak potensi diri yang dapat dikembangkan, sehingga akhirnya membuahkan hasil prestasi yang menyenangkan hati Allah.
·         Menjadi berkat bagi orang lain
Menjadi berkat bukanlah suatu hal yang sulit. Kita bisa menaburkan berkat bagi banyak orang dengan apa yang kita lakukan, apa yang kita katakan, bahkan hanya dengan sebaris kalimat doa.

Sebagai seseorang yang memiliki integritas waktu, kita harus memiliki kejujuran dalam menghargai waktu, memanfaatkan waktu dengan baik, dan mengatur waktu yang diberikan Tuhan. Mahasiswa dengan segudang kegiatan haruslah mulai bekerja keras, dan membuat skala prioritas agar semua kegiatan dapat terorganisir dengan baik. 

Yang terpenting, kita harus bisa menghargai waktu. Tidak seorangpun yang tahu, kapan kita akan dipanggil Tuhan. Apakah kita sudah hidup sesuai kehendak Allah? Apakah kita sudah menjadi berkat bagi orang lain? Jangan sampai semuanya terlambat. Hidup ini sangat singkat. Oleh karena itu, pergunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya. Jadikanlah hari ini seakan-akan menjadi hari terakhir untuk kita, agar waktu yang diberikan Tuhan dapat kita ubah menjadi sesuatu yang berharga bagi diri kita, orang lain, dan terutama bagi Allah sendiri. Tuhan memberkati. :)

Sabtu, 11 September 2010

The Pursuit of Holiness


”Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?”
(Roma 6 : 1-2)

Dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai mahasiswa, ada banyak hal yang membuat kita benar-benar jauh dari kata ‘kudus’. Bolos kuliah, malas mengerjakan tugas, menyontek saat UTS, mengeluh ini-itu, pornografi, dan lain-lain. Cobaan-cobaan semacam ini sangat sulit untuk dihindari, apalagi kalau sudah menjadi suatu kebiasaan. Karena itulah, melalui jumatan minggu ini kita diajak untuk merenungkan tema mengejar kekudusan.
Dalam ayat penuntun yang diambil dari Roma 6:1-2, dapat diambil 2 kata penting. Yang pertama, sempurna. Sempurna berarti tidak berdosa, tidak bercela. Dalam Roma 3:10 dikatakan bahwa tidak ada seorangpun yang benar. Tidak ada manusia yang sempurna. Padahal awalnya manusia diciptakan sempurna serupa dengan gambar Allah. Yang menyebabkan manusia menjadi tidak sempurna adalah saat manusia jatuh ke dalam dosa. Namun, kesempurnaan tersebut masih bisa kita dapatkan kembali, melalui iman kita akan Yesus Kristus yang telah mati menebus dosa kita. Kekudusan Bapa telah melingkupi kita, dan yang menjadi pertanyaan buat kita adalah, apakah kita sudah tinggal dalam kekudusan itu?
Kata yang kedua ialah Yesus. Yesus merupakan sosok yang benar-benar sempurna. Dia kudus. Kudus berarti suci, bersih. Dalam Ibrani 4:15 dikatakan bahwa Yesus sama dengan kita, Dia juga pernah dicobai. Hanya saja, Dia tidak berdosa. Dia tetap kudus. Berbeda dengan manusia, jika kita mendapat pencobaan, seringkali kita jatuh terjerumus ke dalam dosa.

Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang untuk mendapatkan kembali kekudusan itu? Kita harus tinggal menetap di dalam kekudusan Tuhan. Buatlah keputusan saat ini juga, katakan tidak untuk dosa, dan katakan ya untuk kudus! Mulailah menaburkan terang Kristus ke sekeliling kita melalui segala pikiran, perkataan, dan tindakan kita. Ingat, bukan mustahil untuk menjadi kudus. Mari kita mulai mengejar kekudusan! Tuhan memberkati. J

Minggu, 09 Mei 2010

Hidupku Kesaksianku

Yesaya 61:3-4
Apakah kita merasa sebagai orang Kristen?
Sudahkah orang-orang sekitar kita mengetahuinya?
Apa bukti kekristenan kita?



Dapatkah kita menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas? Atau kita hanya dapat menjawab 1, atau 2 saja? Atau, kita bingung bagaimana menjawabnya?
Kekristenan itu lebih dari sekedar memiliki KTP berstatus agama Kristen. Bukan sekedar memakai kalung salib ke manapun kita pergi. Bukan juga dengan setiap hari membaca Alkitab, bahkan menghapal semua ayat di Alkitab.

Saat ini dapat dikatakan kekristenan telah kehilangan jati dirinya. Mengapa dapat dikatakan demikian? Coba saja kita lihat, di dunia public figure kita, misalnya saja artis-artis. Perceraian, kasus hamil di luar nikah, narkoba, kerap mewarnai dunia artis. Yang tak dapat disangkal, beberapa dari mereka berstatus Kristen. Di gereja, majelis jemaat terlibat korupsi,bahkan menurut kisah dari pembicara kita, Mas Lukas, ada seseorang yang tidak mau pergi ke gereja, karena dia mengenali majelis jemaat di gereja itu,yang ternyata sering bermain judi bersama-sama. Bagaimana orang tersebut dapat percaya, bila kita sendiri tidaklah memberikan kesaksian melalui hidup kita?

Penyebabnya adalah, gereja yang sekarang telah mapan, kehilangan hakikat penyelamatan. Sekarang ini keselamatan itu seolah-olah bagaikan ‘tiket’ menuju ke Surga yang berarti kekekalan dan kebahagiaan. Padahal, akibat tiket itu, kita pindah dari ‘warga kerajaan dunia’ ke ‘warga kerajaan Allah’. Itu berarti, tugas kita semakin besar, karena bukan hanya perubahan status yang terjadi, tapi juga membawa konsekuensi pada hidup kita.


Matius 5:13-16
Allah menyatakan, kita adalah ‘garam’ dan ‘terang’, bukan memerintahkan kita agar menjadi ‘garam’ dan ‘terang’. Secara ‘default’, jati diri sebagai ‘garam’ dan ‘terang’ sudah tertanam dalam diri kita. Jati diri kita yang sejati, yang merupakan anugerah Allah, bukan usaha manusia, tidaklah pantas diwarnai dengan kesombongan, apalagi kita main-main dan menyia-nyiakannya. Kita dipanggil untuk berbeda dengan dunia. Bila kita merasa nyaman dengan apa yang ada dalam diri kita sekarang, mungkin kita telah menjadi sama dengan ‘dunia’.

Garam : pengawet, mencegah kebusukan, sebagai bumbu
Terang : menelanjangi kegelapan, menunjukkan jalan

Yesus mengajarkan kita, Dia bukan hanya berkotbah, namun juga menyembuhkan dan memberi mujizat, membalikkan pikiran orang farisi yang salah. Yesus telah memiliki peran tersendiri di dunia. Sebagai pengikutNya, kita pun harus menyangkal diri dan mengikut Dia.
Maksudnya, Yesus tidak hanya menyebarkan teori-teori dan menegur yang salah saja, tapi Dia mempraktekkannya pada orang banyak agar berdampak dan menunjukkan kebenaran yang sejati.
Dalam contoh garam dan terang ini, kita bukan hanya mengawetkan, mencegah kebusukan dan menelanjangi kegelapan yang dapat diartikan menegur kesalahan. Kita pun dituntut sebagai bumbu dan petunjuk jalan yang berarti memberikan petunjuk kualitas hidup sejati sesuai dengan yang Allah inginkan yaitu melakukan kebenaran.

Coba kita evaluasi diri, apakah hidup kita sehari-hari telah mencerminkan kehidupan Kristen yang sesungguhnya? Sudahkan kita mencerminkan gambaran Allah dan memberikan kesaksian melalui hidup kita?
Bila tidak, sama saja kita seperti menjadi garam yang tidak lagi asin dan terang yang meredup, hampir mati. Tidak ada gunanya lagi, hidup kita seakan sia-sia. Bahkan mungkin kekristenan kita adalah sesuatu yang diragukan.


Bila daging busuk, jangan salahkan dagingya, tapi mana garamnya?
Bila ruang gelap, jangan salahkan ruangya, tapi mana terangnya?
Bila dunia rusak, jangan salahkan dunianya, tapi mana orang kristennya?
Apakah kita telah menjadi pohon Tarbantin Kebenaran Allah?

Senin, 26 April 2010

Panggilan Hidup cs. Teman Hidup


“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?”  (II Korintus 6:14)
Tema Jumatan ini memang sangat pas untuk anak muda. Inilah masalah yang seringkali muncul pada benak anak-anak muda karena keduanya berhubungan dengan masa depan. Bila panggilan hidup dan teman hidup ternyata memiliki hubungan, manakah yang harus kita persiapkan terlebih dahulu? Apakah kita harus mencari dahulu teman hidup kita dan bertumbuh bersama untuk mendapatkan panggilan hidup? Ataukah kita harus mencari dulu masing-masing panggilan hidup kita, baru mencari pasangan hidup kita yang sepanggilan dengan kita?
Ternyata seharusnya kita mencari dahulu panggilan hidup kita, baru memikirkan tentang pasangan hidup. Namun, pada prakteknya yang terjadi adalah kita cenderung mencari dahulu teman hidup, baru memikirkan tentang panggilan hidup kita.
Pada awalnya konsep teman hidup sendiri diawali karena Tuhan melihat manusia pertama hanya seorang diri, maka Allah memberikan pasangan yang sepadan.  Lalu, apakah jodoh itu di tangan Tuhan? Ternyata bukan bergitu. Ini adalah kebebasan yang Allah berikan pada kita untuk memilih, selain pasangan, hidup kita nanti pun dapat kita pilih. Maka, kita janganlah salah pilih. Agar tidak salah pilih pun, kita harus memiliki dasar akan firman Tuhan yang kuat dan harus didasari takut akan Tuhan.
Kita harus ingat, dalam diri seseorang ada 2 hal:
·         Hal yang tidak dapat kita ubah [harus kita terima dengan ucapan syukur dengan apa adanya sebagai pasangan]
·         Hal yang bisa kita ubah dari diri pasangan kita
Kemudian, maksud terang tidak sama dengan gelap dalam ayat ini adalah menerangi kegelapan, bukan berkompromi dengan kegelapan. Terang tidak dapat bersatu dengan kegelapan. Itulah sebabnya Tuhan memberikan kepada kita pasangan yang sepadan. Sepadan berarti seimbang, tidak lebih tinggi maupun lebih rendah dari kita. Dalam mencari teman hidup sendiri, ada 2 kesepadanan yang dapat kita lihat:
·         Sepadan dalam iman kepercayaan
Apakah pasangan kita memiliki Allah yang sama dengan yang kita sembah, dan apakah pasangan kita mengasihi TuhanNya? Itulah hal yang dapat kita lihat sebagai evaluasi apakah seseorang memiliki kesepadanan dalam hal kepercayaan dengan kita.
·         Sepadan dalam hal kedewasaan
Jangan sampai dalam suatu hubungan salah satu pihak memiliki keegoisan yang tinggi/ dapat dikatakan tidak dewasa. Namun, kedewasaan bukanlah dilihat dari usia saja. Kedewasaan dapat dilihat dari cara orang tersebut menghadapi dan memecahkan masalah-masalah dalam hidupnya.
Selamat berjuang mencari panggilan hidupmu, dan temukan teman hidup yang ‘sepadan’ serta berkenan di mata Allah.

Senin, 15 Maret 2010

Berjalan dengan Tuhan (12 Maret 2010)

Yesaya 48:18

Ada perbedaan antara jemaat sekarang dengan jemat mula-mula, khususnya pada iman. Dulu iman sebesar biji sesawi saja dapat memindahkan gunung, namun sekarang iman sebesar gunungpun tak mampu untuk memindahkan biji sesawi. Iman kita sekarang sangat berbeda dengan iman kita dulu. Iman adalah pokok anggur. Iman yang besar adalah iman yang digantungkan pada pokok anggur, yaitu Tuhan Yesus. Kita sendiri adalah buah-buah yang berada pada pokok anggur dan kita tidak dapat berbuah jika tidak bergantung pada pokok anggurnya. Padahal tujuan pokok anggur diciptakan adalah untuk berbuah, bukan sebagai tanaman yang sedap untuk dipandang. Orang Kristen sekarang lebih condong kepada keindahan pokok anggur daripada buah pokok anggur tersebut. Misalnya pada acara Natal, pandangan yang salah bila kita lebih mengutamakan acara yang indah, yang glamor dan sebagainya. Bila acara itu tidak berbuah sesuatu yang berguna bagi banyak jiwa, hal ini disebabkan oleh keindahan yang sangat susah untuk ditiadakan dalam segala hal. Oleh karena itu, jadilah orang Kristen yang bukan hanya mementingkan keindahan, namun lebih mengutamakan buah bagi sesama.

Kebanyakan mahasiswa ITB menganggap bahwa karir pelayanan yang baik, menjadi ketua dalam unit, melakukan segala perbuatan baik akan membawa sukses di masa depan. Akan tetapi belajar di ITB seharusnya menjadi belajar yang berkelanjutan. Belajar itu seharusnya adalah proses yang dilakukan seumur hidup. Seringkali kita menganggap bahwa cita-cita kita adalah panggilan hidup kita. Contohnya kita begitu berharap menjadi orang terkaya di Indonesia. Hal itu tentu boleh-boleh saja, tetapi jangan sampai cita-cita itu memperbudak kita sendiri. Jika kita semakin mengejar cita-cita tersebut, tidak untuk kemuliaan nama-Nya, maka cita-cita akan terasa semakin sulit untuk digapai. Seberapa besar porsi yang diberikan Tuhan Yesus, itulah yang seharusnya kita kerjakan dan perjuangkan dalam nama-Nya. Tuhan merencanakan segala sesuatunya indah bagi kita semua.

Panggilan kita adalah melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan dalam hidup kita. Tentu hal itu akan menjadi hal yang sangat sulit untuk dikerjakan. Oleh karena itu kita butuh Allah yang menolong kita melakukan panggilan itu dan turut berjalan serta-Nya. Caranya adalah belajar untuk menikmati Allah, artinya melibatkan Allah dalam setiap hidup kita. Tempatkanlah Tuhan di tempat yang pertama dan akan membuat kita hidup lebih bersungguh-sungguh dari hari ke hari. Belajar bukan untuk mendapatkan nilai sebaik-baiknya, tapi biarkan nilai itu menjadi pertanggungjawaban kepada Tuhan sehingga nilai itu bisa menjadi berkat bagi banyak jiwa. Amin.

Sabtu, 06 Maret 2010

You Have a Call! (19 Februari 2010)

Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugrahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.
(Efesus 3:7)

Surat dari Paulus kepada jemaat di Efesus, ada tiga hal yang penting dan patut digarisbawahi, yakni kata “Injil”, “pelayan”, dan “anugerah”. Bila kita membuka Efesus 2 :8-9, tertulis “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”. Melalui ayat tersebut, disebutkan bahwa anugerah merupakan pemberian Allah.
Alasan Paulus menganggap panggilan melayani sebagai anugerah antara lain tertulis dalam Efesus 3:7 yang tertulis “Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.”, dan juga Efesus 3:8 “Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu,”
Melayani merupakan tugas seorang pelayan, dan seorang pelayan memiliki tugas yang sangat berbeda dengan tuannya. Pelayan dipilih oleh tuannya dan bertugas untuk melayani dan menyenangkan hati tuannya. Pelayan tentunya akan medapat reward dari tuannya, seperti yang tertulis dalam Kolose 3:23-24 “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.”
Ada beberapa kemungkinan sikap hati manusia saat dipanggil untuk melayani. Ada yang menolak dengan alasan enggan, menganggapnya sebagai beban, dan merasa tidak pantas. Namun, di balik semua itu, tentunya masih banyak orang yang rela melayani dengan senang hati, meskipun mereka juga menemukan berbagai hambatan tersendiri. Kita bias melihat beberapa contoh tokoh di alkitab seperti Musa yang tidak pandai berbicara dan merasa minder, Yunus yang enggan melaksanakan perintah-Nya, Daud yang merupakan raja yang sibuk, dan juga Petrus yang seorang nelayan di mana ia juga pernah menyangkal Yesus.

PENERAPAN
Apakah Anda menyadari bahwa saat ini Allah memanggil Anda untuk melayani Allah?

Hal apa yang dapat Anda lakukan untuk meresponi panggilan Allah untuk melayani-Nya?

Sabtu, 06 Februari 2010

It’s Limited! (5 Februari 2010)


“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.”  (Yohanes 9 : 4)
    Pada tema Jumatan PMK minggu ini (5 Februari 2010), kita diingatkan dengan keterbatasan kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Padahal, untuk melakukan pekerjaan Tuhan yang luar biasa, yang tentunya harus diprioritaskan dari tujuan hidup menurut kita sendiri, kita harus dapat melepaskan diri dari keterbatasan kita.
    Dari ayat renungan tersebut dapat kita telaah beberapa hal :
     

    1. Para Murid
    Pada perikop ini, diilustrasikan bahwa Yesus sedang menjawab pertanyaan dari murid-muridnya tentang orang yang buta sejak lahir (memiliki keterbatasan). Sebagai murid, yang tentunya adalah orang-orang terdekat Yesus, bukan berarti mereka memiliki motivasi dan harapan yang sama dengan Yesus. Mereka tidak tahu apa yang terbaik untuk dilakukan sebagai prioritasnya sehingga seringkali menyimpang dari apa yang Tuhan mau.
    2. Pekerjaan-pekerjaan Allah
      Apa sajakah pekerjaan Allah itu? “Semua kegiatan yang menyebabkan makin banyak orang  percaya kepada Allah Bapa, semakin mengenal dan mengasihi-Nya melalui Yesus Kristus, diselamatkan dan mempermuliakan Dia.” Pekerjaan-pekerjaan tersebut harus kita teladani dan kita lakukan agar orang yang di sekitar kita pun dapat merasakan teladan Allah dalam diri kita. Pekerjaan Allah yang harus kita teladani: berdoa, memberitakan tentang surga (mencari dan menyelamatkan yang terhilang), melayani orang-orang yang membutuhkan, memuridkan maupun meregenerasikan visi-Nya, membagikan hidup-Nya, dll. (Yoh.20:30-31)
      3. Pekerjaan-pekerjaan Allah Itu Bersifat Urgent dan Penting

      Urgent berarti mendesak dan harus segera kita kerjakan. Penting berarti kita harus mengerjakannya. Bila tidak kita lakukan, akan ada banyak jiwa tidak beroleh kesempatan untuk diselamatkan.

      4. Keterbatasan kita
      Memang kita ditugaskan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah yang sangat penting itu, namun, sebagai manusia, kita tentu memiliki keterbatasan dalam hal :
      a.    Dari dalam diri kita : Musa (Kel.3:11-4:13)
      Dalam kitab tersebut dikisahkan bahwa Musa memilki keterbatasan dalam pengetahuan, keahlian dan kepercayaan dirinya. Namun, tentu semua itu memilki solusi, misalnya saja dengan memberi diri untuk diperlengkapi Allah dan terus belajar.
      b.    Dari luar diri kita :
      Semua orang harus menerima kenyataan bahwa ia tidak akan bisa hidup terus menerus di dunia ini. Kehidupan kita di batasi oleh ‘waktu’. (Maz 90:10)
      5.    Hidup orang percaya adalah:
      a.    Sebuah Ujian (Yak. 1:12)
      b.    Sebuah Kepercayaan (1Kor. 4:2; Mat. 25:14-30)
      c.     Sebuah Penugasan Sementara (2 Kor. 4:18)
      So, yang harus dilakukan:
      1. Ubahlah sasaran atau tujuan hidup yang belum sesuai dengan tujuan hidup yang telah Allah tetapkan bagi kita. Kemudian, serahkan keputusan kita kepada Allah.
      2. Pegang janji Tuhan bahwa Ia yang telah memanggil kita adalah setia, Ia juga yang akan menyelesaikannya bagi kita. (1Tes.5:4)
      “Prioritas bukan pilihan tetapi keharusan ; Jika pekerjaan Allah adalah sebuah prioritas maka kita tidak bisa memilih untuk tidak menjadikannya prioritas kita.”

      Kamis, 04 Februari 2010

      It's My Calling (29 Januari 2010)

      Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.
      -2 Petrus 1: 10-

      Apa panggilan Saudara? Itulah pertanyaan yang memulai topik minggu ini. Ada banyak pilihan di dunia ini, seperti menjadi presiden, menteri, engineer, ilmuwan, pengusaha, orang terkaya di dunia, guru, musikus, dan masih banyak lagi. Terus Saudara? Bagaimana dengan Saudara sendiri? Apakah Saudara telah mengetahui panggilan hidup yang disiapkan Tuhan untuk masing-masing dari kita?
      Panggilan tidak sama dengan cita-cita. Bahkan terkadang panggilan kita mungkin tidak ada hubungannya sama sekali dengan cita-cita yang kita inginkan. Terkadang kita menganggap panggilan hidup kita hanya mengenai “aku ingin menjadi…”; “aku akan…”; aku dan aku saja. Panggilan hidup haruslah sesuatu yang berdampak, tidak hanya mengenai ‘aku’, ‘aku’, dan ‘aku’ saja. Di saat kita memiliki panggilan hidup, maka tentunya akan menjadi lebih bermakna, dan hidup akan berasa lebih ‘hidup’.
      Panggilan hidup bisa dibilang terbagi menjadi dua bagian, yakni panggilan umum dan panggilan khusus. Panggilan umum kita adalah seperti yang telah tercantum dalam Matius 28:16-20. Sedangkan untuk panggilan khusus adalah panggilan yang dikhususkan Tuhan untuk diri kita masing-masing, yang tentunya tidak sama antar satu sama lainnya.
      Contohnya saja dalam Kejadian 12:1-8. Di ayat tersebut diceritakan bahwa Abram dipanggil oleh Allah. Abram harus meninggalkan sanak saudaranya, rumah bapanya, dan tentunya segala kekayaan dan kenyamanan yang telah dimilikinya untuk memenuhi panggilan Allah. Abram adalah contoh yang baik bagi kita, karena ia bersedia memenuhi segala panggilan itu tanpa menunda-nunda lagi. Begitulah harusnya kita menanggapi panggilan khusus kita yang memang telah direncanakan-Nya, meskipun terkadang hal tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan keinginan kita.

      Topik-topik tiap minggu untuk Fokus Semester ini:
      1. Eksposisi Tema
      2. Limit Waktu, Prioritas, dan Berikan yang Terbaik
      3. Panggilan Hidup Itu Apa Sih?
      4. Panggilan Hidup Itu Anugerah
      5. Panggilan Umum dan Panggilan Khusus
      6. Mengetahui dan Menguji Panggilan Hidup
      7. Panggilan Hidup yang Kontinu
      8. Kekudusan dan Kemurnian
      9. Ketaatan
      10. Allah Setia, dan Ada Janji Bagi yang Taat
      11. Bedah Buku
      12. Pemberlengkapan
      13. Bersaksi

      Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
      -1 Yoh 2:17-

      Minggu, 22 November 2009

      "PA" (13 November 2009)


      Beberapa tahun yang lalu, beredar sebuah buku berjudul “Tiuplah Sangkakala” yang menyatakan bahwa kiamat akan datang pada tahun 1997, berdasarkan pemahaman penulisnya terhadap tanda-tanda yang ada di Alkitab. Ternyata hal tersebut tidak terbukti. Pemahaman yang kurang mengenai Alkitab tidak hanya bisa membuat kita salah memahami kehendak Tuhan, tetapi juga bisa menyesatkan orang lain.
      Mengapa kita perlu memahami Alkitab? Alkitab mempunyai sifat dualisme:
      1. Alkitab adalah tulisan Allah : pewahyuan diri Allah dan rencana-Nya (2 Tim. 3:15-17)
      - Alkitab menuntun kepada keselamatan
      - Alkitab member kerangka berpikir dan mengubah konsep hidup
      - Alkitab bisa mengubah hidup dengan kuasa-Nya
      2. Alkitab adalah tulisan manusia : pewahyuan Allah melalui manusia
      - Ada kesenjangan budaya, contohnya mengenai budak (Efesus 6:5-9)
      - Ada kesenjangan bahasa, yakni perbedaan tata bahasa dan ketiadaan padanan kata antara bahasa Yunani (bahasa asli Alkitab PB) dan bahasa Indonesia (terjemahan LAI), sehingga arti suatu ayat bisa berbeda.
      - Ada kesenjangan geografis, yakni tempat-tempat yang sekarang sudah tidak ada atau tidak dikenal tetapi disebutkan di dalam Alkitab (contoh: Dalmatia)
      Karena adanya kesenjangan-kesenjangan tersebutlah maka kita harus mempelajari Alkitab melalui Pendalaman Alkitab (PA) sehingga kita bisa mengerti.
      Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mempelajari Alkitab:
      1. Context (Konteks), misalnya latar belakang budaya dan bentuk tulisan-tulisan yang ada di Alkitab. Di dalam Alkitab terdapat berbagai macam bentuk tulisan: narasi, surat, hukum, puji-pujian, hikmat, nubuat, dan apokaliptik. Bentuk tulisan yang berbeda-beda membuat penafsiran Alkitab juga berbeda
      2. Content (Isi), misalnya makna kata-kata “asing” (contoh: dinar, talenta, saduki, farisi, dsb.)dan tata kalimat
      Setelah kita memahami pentingnya mempelajari Alkitab, bagaimana cara melakukan PA secara induktif? Metode PA induktif dilakukan dengan 3 cara:
      1. Observasi: What does it say to the original audience? Apa yang dikatakan teks tersebut terhadap orang-orang pada zamannya?
      2. Interpretasi: What does it mean? Apa makna dari teks tersebut? Prinsip atau pesan apa yang bisa diambil dari teks dan berlaku juga untuk manusia pada saat ini?
      3. Aplikasi: What does it mean to us/me? Apa makna teks tersebut untuk kita/saya? Apa relevansi pesan tersebut dalam hidup saya?
      Berikut ini adalah contoh tulisan di dalam Alkitab dan cara menerapkan metode PA:
      1. Narasi
      Ciri-ciri dari tulisan narasi adalah:
      - Sebatas cerita, tidak eksplisit, bukan nasihat atau larangan, sehingga pembaca Alkitab harus menarik kesimpulan sendiri
      - Narasi mencatat apa yang terjadi, bukan yang seharusnya terjadi, sehingga tokoh-tokoh dalam Alkitab tidak selalu melakukan apa yang benar, contohnya: Abraham berbohong
      - Selektif, hanya data-data yang bersifat relevan dengan cerita Alkitab saja yang dituliskan, misalnya: Alkitab tidak mencatat tanggal lahir dan masa kecil Yunus
      - Tidak bersifat teologis
      Untuk tulisan narasi, metode observasi yang tepat adalah membaca teks berulang-ulang, memahami latar budaya, kata-kata yang digunakan, dan membuat outline-nya. Dalam tulisan narasi, suatu outline biasanya berbentuk: pengantar →inti →penutup.
      2. Surat
      Ciri-ciri tulisan berbentuk surat adalah:
      - Dominan pada Perjanjian Baru
      - Berbentuk surat atau paper untuk pembacanya (jemaat)
      - Penuh permainan kata dan grammar
      Karena banyak permainan kata, maka metode observasi yang tepat untuk tulisan berbentuk surat adalah penulisan ulang.
      Untuk memahami Alkitab, kita dapat menggunakan lima prinsip dasar:
      1. Mendengar
      2. Membaca
      3. Mempelajari
      4. Menghafalkan
      5. Merenungkan dan melakukan
      Sebagai penutup, kita mempelajari Alkitab karena Alkitab menuntun kita kepada keselamatan. Namun, keselamatan yang kita peroleh bukanlah keselamatan dalam arti sempit, sebatas masuk surga saja, melainkan keselamatan dalam arti luas, yaitu pemulihan relasi dengan Tuhan, berdamai dengan sesama, dan juga berdamai dengan diri sendiri. Kita tidak bisa berhenti sampai mempelajari Alkitab saja, tetapi kita meneruskannya dengan melayani Tuhan dan sesama.