Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Desember 2010

Revolusi Tahun Baru

     Halo, Jemaat. Ini adalah posting terakhir blog ini di tahun 2010. Posting ini sekaligus posting terakhir di blog ini. Mulai tahun depan, kita akan punya domain baru di pmk.itb.ac.id (belum jadi, jangan diliat dulu, fufufu). Well, kita harus rela meninggalkan yang lama demi mendapat yang lebih baik, bukan?
     Jadi, hari ini adalah hari terakhir di tahun ini. Ada yang merayakannya dengan main terompet, makan bersama keluarga, berdoa, ibadah tutup tahun, bahkan "merayakannya" dengan tidur. Siapkah kamu memulai tahun depan? Adakah misi yang gagal kamu jalankan di tahun 2010? Yow, apapun yang terjadi di tahun lalu, mulailah Tahun Baru dengan ayat-ayat Alkitab ini sebagai pembimbing kamu. Semoga ini bisa menginspirasi perjalanan kamu di 2011 nanti, agar kita tetap berjalan dalam Tuhan, dan bisa lebih menghidupi kehidupan kita sebagai seorang Kristen. :D

Tahun Baru - Lahir Baru
    * 1 Petrus 1:3
    * Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,

Harapan untuk Masa Depan
    * Yeremia 29:11
    * Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Ciptaan Baru
    * 2 Korintus 5:17
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Hati yang Baru
    Yehezkiel 36:25-27
Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya 

Lupakan Masa Lalu
    * Filipi 3:13-14
Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,

Belajar dari Kesalahan
    * Hebrews 12:10-11
Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.

Tunggu Tuhan Bertindak
    * Mazmur 37:7
Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.

    * Yesaya 40:31
Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Waktu Tuhan Adalah yang Terbaik
    * Pengkhotbah 3:11
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Setiap Hari Adalah Istimewa
    * Ratapan 3:22-24
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

Siap untuk menghadapi Tahun Baru? Ciptakan revolusi, bukan hanya resolusi. :)
Tuhan memberkati!

Rabu, 07 April 2010

Jagalah Kekudusan (Ibrani 12:1-17)


Jagalah Kekudusan (Ibrani 12:1-17)
“Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu.”(I Petrus 1:15)
Layaknya sebuah hukum, munculnya KEKUDUSAN dalam hidup kita dapat disebabkan oleh 2 hal:

·         de Jure
Tuhan Allah pencipta kita kudus, maka kita sebagai ciptaan-Nya pun diberi status “kudus”

·         de Facto 
     Secara fakta dan nyata, seharusnya kita segambar dengan Allah kita, kudus. Namun, pada kenyataannya, kita jauh dari kekudusan Allah. Maka ada istilah “kejarlah kekudusan”.

II Timotius 2: 14-26
Setiap seseorang yang akan pergi--apalagi pergi meninggalkan dunia ini--tak jarang akan menyampaikan pesan yang sangat penting. Begitu pula Paulus. Bahkan, dia menulis surat kepada Timotius di dalam penjara Roma. Paulus merasa penting menulis ini agar Timotius kuat menghadapi tantangan-tantangan yang menghadang di depan, yang harus dijalaninya tanpa bantuan Paulus lagi. Tentunya tantangan-tantangan tersebut akan semakin berat, misalnya  ajaran yang menyesatkan, omong kosong yang tidak suci, debat kusir yang mengacaukan orang yang mendengarnya.
Paulus mengajarkan Timotius untuk memberitakan pengajaran dengan kebenaran, dengan cara :
1.    Bertekun dan setia (ayat 11)
2.    Menyucikan diri dari hal yang jahat [dosa dan kenikmatan, perbuatan yang menyimpang] (ayat 21). Allah memberi kesempatan kepada kita untuk bertobat dan mengenal kebenaran.
Menyucikan diri dapat kita analogikan dengan ilustrasi perabot rumah tangga yang terbuat dari emas dan perak. Perabot tersebut pasti digunakan untuk acara khusus dan pekerjaan yang mulia, dan itulah yang Paulus inginkan terjadi pada Timotius. Maka pada ayat 22 disebutkan Paulus menasihati Timotius untuk menjauhkan diri dari nafsu orang muda (menjaga diri dari dosa, menguduskan diri, nafsu kehormatan dan kedudukan)
Pesan itu pun berlaku untuk kita, meskipun konteksnya tentu berbeda dengan keadaan sekarang.
Beberapa alasan mengapa kita harus hidup kudus, yaitu karena kita:
·         Diampuni dengan ‘cuma-cuma’ oleh Allah
[Roma 6:1-3] bukan berarti karena setelah kita ditebus oleh Allah dan diampuni, kita bebas berbuat dosa lagi.
·         Dipersiapkan untuk pekerjaan mulia
Kita dipersiapkan Allah untuk pekerjaan mulia, maka kita pun harus menyiapkan diri untuk memenuhi persyaratan dalam menyiapkan pekerjaan tersebut.
·         Seharusnya kudus, seperti Allah kita yang kudus
Efesus 2:10 -Kita diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik, karena Allah ingin kita hidup dalam pekerjaan tersebut. Meskipun tentunya ada saat-saat berat untuk menghadapinya, kita ditunutut untuk setia.
Meskipun kita belum mengetahui panggilan hidup kita, kita dapat mempersiapkan diri untuk rencana besar yang telah Tuhan rancangkan dengan hidup kudus dalam Tuhan.

Jumat, 02 April 2010

Jual-Beli

Suatu hari, sepulang gereja, seorang pendeta memutuskan untuk jalan-jalan di taman. Waktu jalan-jalan, dia berpapasan dengan seorang anak kecil yang sedang berjalan ke arahnya. Anak kecil itu kumal dan membawa sebuah sangkar burung di tangannya. Sangkar burung itu tampaknya tidak terawat, kotor dan bau; di dalamnya ada tiga ekor burung liar. Pendeta tidak tahu itu burung jenis apa, atau kenapa anak kecil itu menangkap burung-burung itu. Yang dia tahu hanyalah, sepertinya burung-burung itu bukan jenis burung kicau ataupun burung hias, jika dilihat dari bulu-bulu yang kotor dan suara yang kedengarannya biasa-biasa saja.

Penasaran, pendeta itu pun bertanya pada si anak, "Coy, ngapain bawa burung-burung gituan? Buat apa? Mereka bukan burung hias, kan?"

Anak itu nyengir sambil jawab, "Ah, Pak Pendeta. Saya cuma hobi aja nangkepin burung-burung liar dari taman."

"Terus, kalo udah sampe rumah, kamu apain burung-burung itu?" pendeta masih penasaran.

"Saya akan cabutin bulu-bulu mereka!" anak itu menjawab tanpa ekspresi. Pendeta tertegun.

"Saya suka dengar suara mereka waktu saya nyabutin bulu-bulu mereka. Suara burung kecil yang mencicit kesakitan. Hahaha... Saya suka lihat badan mereka yang kehabisan bulu. Biasanya sih kalo lagi mood, saya akan cabutin bulu mereka sampai habis, sampai gundul."

Pendeta itu terdiam sejenak. Dia berusaha mengerti apa yang ada di pikiran anak ini. Kenapa dia begitu menikmati penderitaan makhluk lain? "Lalu, kalo udah gundul, mereka kamu apakan?" pendeta berusaha memahami jalan pikiran anak itu.

"Oh, saya punya dua kucing di rumah, Pak Pen. Biasanya kalo sudah gundul, burung-burung itu saya lemparkan ke kucing saya. Lucu banget waktu liat kucing saya maenin burung-burung itu, sampai akhirnya mereka makan burung-burung itu. Memang kedengarannya sadis sih, tapi saya tidak menyiksa burung kok," anak itu masih nyengir.

"OMG WTF?!" pendeta itu terhenyak. Kenapa ada makhluk seperti ini? Seenaknya saja menyiksa makhluk lain. Pendeta merasa kasihan pada burung-burung itu. "Ah, Nak. Bagaimana kalau burung-burung itu buat Om aja? Kelihatannya asyik tuh buat peliharaan," pendeta berusaha negosiasi dengan anak itu.

"Buat apa, Pak Pen? Mereka kan kotor, bau, dan gak bisa apa-apa. Mereka cuma akan nyusahin Pak Pen aja kalo dijadiin peliharaan."

"Ah, gini deh. Pak Pen akan beli burung-burung itu, gimana?" pendeta itu mencoba merayu anak itu dengan sesuatu yang semua orang suka.

"Hmm... Boleh sih. Tapi 300 ribu ya, hehehehehe..." tiba-tiba iris mata anak itu berubah jadi ijo.

Pendeta itu tidak banyak berpikir. Dia langsung menyerahkan 300 ribu (coba bayangin kalo dibeliin gorengan dapat berapa ekor) ke anak itu. Deal. Sekarang burung-burung itu jadi milik Pak Pendeta. Pendeta meneruskan jalannya ke taman sambil membawa burung-burung itu beserta sangkarnya. Setiba di taman, dia melepaskan burung-burung itu.

"Hmphh..." keluhnya, "Pergilah dan jangan tertangkap lagi. Hiks... Masa buat kalian aku kehilangan 300 ribu sih? Gapapa deh. Itu bentuk kasihku ama kalian." -TAMAT-



Rabu, 31 Maret 2010

Siklus Tahunan Sebuah Alkitab

JANUARI
Saat-saat yang bikin aku capek. Sebagian besar anggota keluarga memutuskan untuk menamatkanku dalam tahun ini. Hahaha... Khotbah Pak Pendeta saat ibadah awal tahun kemarin benar-benar mengena di hati mereka, apalagi Mira dan Tia. Mereka benar-benar membuatku sibuk selama 3 minggu pertama, namun sekarang mereka sudah melupakan aku. Ah, syukurlah, aku bisa istirahat beberapa hari.

FEBRUARI
Waktu pembersihan. Kemarin aku dilap dan dikembalikan ke rak buku, ditempatkan di dekat hiasan salib dari karton. Minggu lalu, Ayah membuka halaman-halamanku selama beberapa menit. Ia bertengkar dengan seseorang dan mencari-cari beberapa ayat acuan untuk membuktikan bahwa dirinya benar. Hmm...

MARET
Aku sibuk sekali pada tanggal 20 bulan ini. Ibu, sebagai ketua regu choir, diminta memberi sambutan dalam sebuah acara di gereja. Sepulang acara itu, ada sebuah pembatas Alkitab cantik yang menemaniku.

APRIL
Kakek datang! ^_^ Ia memangku aku selama setengah jam untuk membaca 1 Korintus 13. Tampaknya ia lebih mempedulikanku daripada orang-orang lain di rumah ini.

MEI
Ada beberapa noda kehijau-hijauan di halaman-halamanku. Mereka memanfaatkanku untuk menjepit beberapa kuntum mawar. Aku tidak tahu bunga-bunga itu dari acara apa, karena aku ditutup selama acara. Dari yang kudengar sih, ini acara pernikahan Mira dan Roy.

JUNI
Berat sekali! Waktu aku bangun, entah kenapa ada buku Kalkulus besar di atasku. Aaaaahh! Kenapa sih buku yang besar gak ditaruh di bawahku? Aku sendiri jadi ngerasa gak enak waktu buku Kalkulus itu minta maaf.

JULI
Mereka memasukkanku ke dalam koper. Kurasa kami akan pergi berlibur. Aku sebenarnya lebih senang tinggal di rumah. Aku tahu kalau aku akan tinggal di dalam kopor selama... yaah... 2 minggu lah.

AGUSTUS
Sudah lebih dari 3 minggu. Tahun-tahun lalu hanya 2 minggu, bahkan kurang. Ada beberapa baju baru di sebelahku. Mereka bilang mereka dari Jogja.

SEPTEMBER
Akhirnya mereka mengeluarkanku dan mengembalikanku ke rak buku. Sekarang aku punya banyak teman. Dua majalah game dan sekitar 10 Intisari ditumpuk di sampingku. Aku berharap aku dibaca sesering mereka.

OKTOBER
"Kiranya Firman Tuhan ini dapat menjadi penuntun hidup dan pembimbing kita," doa Ayah saat memegangku. Mereka membacaku sebentar hari ini. Tia sakit. Saat ini aku duduk tepat di tengah meja makan. Kurasa Pak Pendeta akan datang untuk jenguk Tia tidak lama lagi.

NOVEMBER
Kembali ke tempat semula. Ibu hampir saja salah ambil, dia kira aku ini kamus bahasa Inggris. Hahahaha...

DESEMBER
Keluarga ini sibuk mempersiapanku menjelang hari Natal. Kurasa aku akan dibungkus kertas kado lagi... Seperti yang selalu terjadi setiap Natal. Ah, siklus tahunanku sepertinya akan terulang lagi deh...

Kamis, 18 Maret 2010

Sejarah Bangsa dan Kristen Garam

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah bangsanya. Kata-kata ini pernah menegurku. Aku mengaku kepada seorang sahabat kalau aku sudah lupa sejarah. Pantas saja bangsaku, Indonesia, tidak menjadi bangsa yang besar. Rupa-rupanya orang-orang seperti aku-lah yang memenuhi sebagian besar nusantara ini.

Pikiranku mulai menelusuri ulang ke masa-masa ketika aku harus mempelajari sejarah yang hanya mengedepankan apa peristiwanya apa, kapan terjadinya, siapa saja yang terlibat, dan lain-lain. Kesemuanya kuanggap sebagai hapalan dan pengetahuan umum biasa. Tidak lebih. Pemikiran akan detail-detail yang cenderung bersifat hafalan telah memenuhi ruang-ruang sel otak dan menyebabkannya penuh. Tidak ada lagi ruang untuk pembelajaran dan teladan sejarah.

Pembelajaran berarti memetik nilai-nilai dari suatu hal untuk menjadi modal baginya dalam menghadapi hal lain di depan. Tujuannya tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Dahulu bangsa kita dijajah karena kebodohan. Sekarang sistem pendidikan masih jauh dari baik. Di manakah pembelajaran itu? Dahulu bangsa kita dikenal sebagai bangsa pemalas. Sekarang makin parah dengan lahirnya generasi serba instan yang lebih suka jadi pengikut tren dibanding pencetus tren. Pembelajaran tampaknya telah menjadi hal yang terlupakan.

Begitu juga tokoh-tokoh pejuang nasional terlupakan. Teladan mereka masih kalah pamor dibanding artis-artis yang tidak punya pengaruh baik. Siapa orang yang tidak kenal dengan Peter Pan? Tetapi, jika orang yang sama ditanyakan apakah dia mengenal Robert Wolter Monginsidi, atau John Lie tampaknya dia akan berpikir sangat lama untuk menjawab. Teladan perjuangan para pejuang seyogyanya tidak dianggap sepele. Kita malah seharusnya merasa malu kepada mereka yang telah berbuat banyak untuk bangsa dan negaranya. Alih-alih berbuat, peduli saja kita tidak. Sungguh menyedihkan. Bagi sebagian besar orang, sikap peduli terhadap bangsa menjadi bagian terpisah dari kehidupan. Orang-orang seperti ini tidak sadar tanah siapa yang dipijaknya dan air siapa yang diminumnya. Dan jika itu pun tidak disadarinya, bagaimana pula ia sadar langit siapa yang harusnya dijunjungnya?

Orang Kristen, secara tidak langsung juga membangun tembok terhadap kebangsaan. Kecintaan akan Tuhan sebaiknya juga berbuahkan kecintaan akan bangsa dan negara. Bukan sebaliknya, hanya sibuk dengan urusannya sendiri, gerejanya sendiri, pelayanannya sendiri, seolah-olah menjadi hal yang terpisahkan. Bukan demikian kehendak Tuhan bagi kaum Kristen Indonesia yang seharusnya menjadi garam dunia.

Belum lama ini aku mengenal istilah Kristen gincu. Istilah ini digunakan seorang penulis untuk merujuk kepada kehadiran Kristen yang penuh gembar-gembor, seperti gincu yang bisa membuat segelas air berwarna merah, tapi tidak mengubah rasa. Kontrasnya adalah Kristen garam yang kehadirannya membawa nilai-nilai Kerajaan Allah secara nyata, mencegah pembusukan nilai‐nilai di masyarakat, tanpa perlu membawa label‐label Kristen. Hasilnya adalah nama Tuhan dikenal, dipermuliakan dan disembah melalui hidup yang seutuhnya diabdikan kepada Allah dan sesama.

Jikalau begitu adanya, sejarah bangsa ini bukan lagi hanya sekedar bercerita tentang suatu peristiwa, siapa yang terlibat dan lain-lainnya, namun lebih penekanan tentang pergerakan nyata dari sekelompok orang yang menamakan dan berlaku sebagai Kristen garam, Kristen Indonesia.

Rabu, 17 Maret 2010

Keintiman dengan Allah: Kunci Keberhasilan Sejati

Coba pikirkan tentang segala hal menyenangkan yang mungkin nantinya akan kita raih. Dari sekian banyak hal yang baik-baik tersebut, coba pilih salah satu yang paling menggambarkan keberhasilan kita sebagai manusia. Apa itu?

Setiap orang akan memiliki jawaban yang berbeda tergantung cita-cita dan harapan masing-masing. Keberadaan harapan-harapan itu akan membuat setiap pribadi yang menginginkannya terus berusaha dan bekerja keras lebih daripada usahanya untuk mendapatkan hal lain. Banyak hal yang akan dicoba, mulai dari hal-hal kecil sampai hal-hal yang sangat menyita banyak waktu, tenaga, dan dana. Semua orang berpikir, ”Asal aku bisa mendapatkannya, tidak apa-apa aku melakukan semua ini sekarang.”

Nah, sekarang kita berbicara mengenai kekristenan. Apa standar keberhasilan dari seorang pengikut Tuhan? Apa yang menjadi patokan dan parameter untuk kita dapat mengatakan bahwa diri kita berhasil di dalam kehidupan kekristenan ini? Apakah saat orang tersebut telah melakukan pelayanan yang luar biasa? Apakah ketika seseorang telah menjadi pemimpin pujian, pemain musik, pembicara, orang tersebut bisa dikatakan sukses? Apakah ketika seseorang memiliki sebelas orang murid dia dapat dikatakan sukses?

Tema SLT kita kali ini adalah Pemimpin yang Berbuah. Apa yang dikejar oleh setiap peserta adalah cara untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki buah, yang merupakan tindakan pemuliaan Tuhan (Yoh. 15: 8). Bagaimana cara untuk bisa menjadi pemimpin yang berbuah itu?

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. (Yoh.15: 4)

Salah satu ayat yang merupakan bagian dari perikop tema SLT kita tahun ini telah menuliskan cara agar seorang pemimpin dapat berbuah: tinggal di dalam Tuhan.

Kata “tinggal” bukanlah sekedar bermakna “singgah” atau “berteduh”, melainkan “menetap” dan “berada di tempat yang sama.” Jadi tinggal di dalam Tuhan bukanlah tindakan memanggil Tuhan di saat kita memerlukan, bukan juga tindakan rutin mengikuti ibadah, persekutuan, dan persekutuan doa. Tinggal di dalam Tuhan memiliki arti yang lebih mendasar lagi. Tinggal di dalam Tuhan berarti kita sebagai pribadi berada bersama Tuhan yang juga merupakan Pribadi yang abadi. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Saat kita percaya, Roh Tuhan akan masuk ke dalam diri kita dan akan terus berada di dalam kita. Permasalahannya sekarang adalah apakah kita mau terus tinggal di dalam Tuhan.

Tindakan tinggal di dalam Tuhan menyangkut dua hal mendasar di dalam kehidupan Kristen, yaitu “saat teduh” dan “berdoa.” Kedua tindakan ini adalah tindakan dasar tetapi wajib dilakukan di dalam proses menetap di dalam Tuhan.


1. Saat Teduh
 Hosea 6:6 berbunyi, ”Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih daripada korban-korban bakaran.” Hal yang terpenting di dalam hidup adalah memiliki pengenalan akan Allah yang terus-menerus menuju kepada kesempurnaan. Mengapa kita harus melakukan saat teduh dan mengenal Allah?



Di zaman Perjanjian Lama, kita masih menjumpai cara komunikasi Tuhan dengan nabi-nabi yaitu Allah secara langsung menampakkan diri kepada manusia atau langsung memperdengarkan suaranya tetapi sekarang cara Yesus berbicara langsung kepada kita adalah melalui Alkitab yang merupakan Firman Yang Hidup. Perkataan Tuhan baik secara langsung maupun secara tidak langsung melalui orang-orang yang dipakainya telah dicatat di dalam Alkitab. Jadi, cara terbaik bagi kita untuk mendapatkan pemahaman yang dari Tuhan adalah dengan membaca dan merenungkan firman-Nya yang ada di Alkitab.

Saat teduh adalah hal yang harus dilakukan secara rutin tiap hari. Teladan Yesus mengajarkan kita tentang bimbingan Allah yang kita dapatkan melalui waktu-waktu tenang bersama Tuhan. Begitu banyak perintah, larangan, dan janji Tuhan yang menjadi tuntunan kita dalam menjalani kehidupan kita. Kita sebagai orang-orang percaya dituntut untuk mengetahui firman itu dan menerapkannya di dalam kehidupan kita.

Di dalam kehidupan keseharian kita, begitu banyak keputusan-keputusan yang harus kita ambil dan sebagai pemimpin rohani, kita dituntut untuk dapat mengambil keputusan yang benar yang bisa memberikan dampak di lingkungan kita. Ketika kita tidak rutin memiliki waktu pribadi dengan Tuhan dan merenungkan perkataan-Nya yang terdapat di dalam Alkitab, maka kemungkinan besar kita akan mengambil pilihan-pilihan yang salah yang akan semakin menjauhkan kita dari posisi pemimpin rohani tersebut. Jadi, kehilangarahan hidup kita adalah hasil dari kurangnya waktu intim dengan Tuhan sehari-hari.

Keintiman sangat dibutuhkan di dalam kehidupan saat teduh kita. Ketika seseorang berteman dengan seorang yang lain, pengenalan orang itu akan temannya akan semakin baik bila dia semakin intim dengan temannya tersebut. Bila dia hanya sekedar tahu dan tidak mengenal dengan intim, maka yang didapatkan hanya pengenalan seadanya, ”Yah, dia orangnya rajin, pintar, baik, penurut.” Namun, bila mereka intim, maka yang ditemukan adalah komunikasi yang intim juga sehingga pengenalan seseorang dapat berujung pada, ”Dia orangnya perhatian, bahkan sangat mau menjadi capek untuk orang lain, dia tidak suka ditraktir tapi maunya mentraktir orang, dia tidak suka dengan ular, tapi sayang sama kucing, dan dia senang sekali buku-buku humor tapi gak suka novel cinta.” Jadi jika kita intim dengan Tuhan, maka kita akan mendapatkan pengenalan yang baik dan benar akan Tuhan sehingga hidup kita akan memiliki dasar yang benar dan memiliki arah yang jelas.

2. Berdoa

Hal lain yang tidak kalah penting dalam tindakan tinggal di dalam Tuhan adalah berdoa. Doa dianalogikan sebagai nafas hidup orang Kristen. Seperti layaknya manusia tidak dapat hidup tanpa nafas, seperti itu jugalah manusia Kristen tidak dapat menjadi seorang Kristen tanpa berdoa. Berdoa ialah komunikasi dengan Tuhan. Komunikasi berbicara tentang interaksi dua arah, kita ke Tuhan dan Tuhan kepada kita manusia.

Seperti halnya seorang teman yang berbicara dan berkomunikasi dengan temannya, maka semua hal dapat dibicarakan. Seperti itu juga ketika kita berkomunikasi kepada Tuhan. Doa atau komunikasi dengan Tuhan secara umum menggambarkan kebergantungan mutlak seorang manusia kepada Tuhannya. Ketidakmampuan kita sebagai manusia membuat kita selalu akan berhubungan dengan Tuhan yang merupakan pencipta kita.

Tuhan berkata di dalam Lukas 11: 9, ”Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Inilah janji Tuhan kepada kita anak-anak-Nya. Setiap hal yang kita perlukan, yang kita mau, dan yang kita gumulkan, katakan saja kepada-Nya. Dialah Tuhan kita, yang menciptakan kita, yang mahatahu apa yang kita perlukan. Janji-Nya adalah ketika kita meminta, maka kepada kita pasti akan diberikan.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”. Tuhan juga menginginkan kita berbicara apa saja kepada-Nya, kekhawatiran maupun ucapan syukur. Tidak ada batasan apapun dalam berdoa, Tuhan selalu ingin kita berkomunikasi dengan-Nya.

Di dalam Yohanes 15: 5, Yesus menganalogikan diri-Nya sebagai pokok anggur dan orang-orang percaya sebagai ranting-rantingnya. Apapun hal yang dilakukan si ranting, sebaik apapun ranting itu tumbuh, bila ranting itu tidak melekat kepada pokok itu, maka ranting itu akan mati. Sama seperti ranting itu, maka kita sebagai orang percaya juga tidak boleh tidak melekat pada Tuhan yang merupakan pokok anggur itu. Konsekuensi dari tidak tinggal di dalam Tuhan adalah tidak dapat menghasilkan buah.

Bayangkan apa yang akan terjadi kepada kita tanpa Tuhan. Bayangkan bila kita tidak mau tinggal di dalam Tuhan. Kita akan hanya menjadi ranting yang dibuang dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang lalu dibakar ke dalam api. Apa jadinya bila kita yang mengaku pemimpin yang berbuah tidak mau tinggal di dalam Tuhan? Yang ada hanyalah perkataan dan tidak ada faedahnya sama sekali. Jadi, mari tetap tinggal di dalam Tuhan dengan menjaga kedisiplinan kita di dalam saat teduh dan doa-doa kita.

This is to my Father’s glory, that you bear much fruit,
showing yourselves to be my disciples.

Jumat, 12 Maret 2010

Kipas Kristal

Tulisan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan alat yang digunakan orang-orang untuk menyejukkan diri. Apalagi dengan struktur yang berdensitas lebih besar dari struktur amorf yang telah memusingkan kepala banyak orang. Tulisan ini murni mengenai orang Kristen. Mengapa tentang orang Kristen? Karena sekarang adalah waktu yang tepat untuk membahasnya: Natal.

Natal adalah suatu hal yang lazim dikaitkan dengan pohon natal, ibadah gereja, kandang domba, lampin, palungan, orang-orang Majus. Suatu perayaan besar akan lahirnya seorang bayi, Juruselamat dunia. Setiap orang menunggu-nunggunya, setiap orang merayakannya, setiap orang sibuk mencari-cari hadiah, sibuk mengikuti ibadah-ibadah natal dan perayaannya di banyak gereja. Semua orang bersukacita, bahkan Tuhan pun tersenyum melihatnya. Benarkah?

Kebanyakan orang mungkin memiliki euphoria yang tinggi terhadap natal. Namun, tidak semua orang seperti itu. Banyak orang yang mungkin tiap-tiap harinya bergumul tentang apa yang akan dilakukannya untuk keberlangsungan hidupnya, banyak juga yang sedang berduka dan tidak memiliki siapa-siapa untuk merayakannya di saat begitu banyak orang di tengah kelimpahannya bisa mengeluarkan uang yang besar untuk merayakan dan menikmati indahnya natal. Pertanyaannya sekarang adalah, sebenarnya apa esensi dari natal itu sendiri?

Natal bukanlah suatu perayaan, melainkan wujud Kasih Kristus yang nyata bagi manusia. Di dalam pemikiran manusia, Natal adalah suatu keindahan. Tetapi jika saja kita mau melihat kembali apa yang terjadi pada hari kelahiran itu, di situlah kita boleh mengerti betapa butuh perjuangan keras dan ketotalan dalam memberi dari orang-orang pilihan Allah agar benar bahwa kita boleh merayakannya sekarang. Wahyu pasal 12 jelas-jelas memaparkan suatu kejadian nyata pada masa kelahiran yang betul-betul menyeramkan dan sangat menakutkan bagi manusia.

Kelahiran bukanlah suatu tujuan Allah, melainkan kematian di kayu salib sebagai penebusan. Bahkan hari Jumat Agung dan Paskah pun sudah diramaikan dengan segala pesta dan hadiah-hadiah. Padahal apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu adalah suatu derita yang luar biasa bagi Anak Manusia. Derita yang memungkinkan kita sekarang untuk merayakan ini semua dan beroleh Kasih Karunia itu. Orang-orang Kristen telah kehilangan esensi dari Natal itu sendiri. Semua orang telah sibuk dengan dirinya sendiri, meningkatkan eksistensi dirinya di dalam segala bentuk perayaan-perayaan. Tidak lagi melibatkan Allah di dalam segala perayaan-perayaan itu apalagi di dalam kesehariaannya. Padahal kalau kita mau sadari dan akui, Natal itu sendiri adalah merupakan hari ulang tahun dari Yesus itu sendiri.

Tetapi orang-orang yang mengaku adalah pengikut-Nya malah tidak melibatkan-Nya sama sekali di dalam hari jadi-Nya. Sungguh ironis apa yang terjadi sekarang. Sebagai orang Kristen yang benar dan bertumbuh di dalam iman, kasih adalah sesuatu yang harusnya kita tonjolkan di dalam Natal ini. Menonjolkan kasih sama dengan menonjolkan Kristus yang merupakan Kasih yang sempurna itu. Banyak hal yang bisa kita lakukan, melihat orang-orang di jalanan, mengunjungi panti asuhan, memberikan sumbangan. Hal-hal itu mungkin terlalu ekstrem, tapi masih mungkin dilakukan. Tidak harus hal-hal demikian, berkunjung ke tempat teman yang sedang tidak bersama keluarga, share bersama tentang Natal, makan bersama, memberikan ucapan kepada orang-orang sekitar kita, saling mendoakan, saling mendukung mungkin adalah cara-cara yang bisa kita lakukan untuk boleh menyikap natal dengan benar. Jadi jangan sekali-kali menyingkirkan diri Yesus dari dalam diri kita, jangan halangi Dia bekerja dalam diri kita, jangan sampai di hari ulang tahun-Nya kita yang bekerja sendirian. Jadi masih adakah tempat bagi Yesus di dalam diri kita? Ataukah kita mau mengulangi situasi dimana Yusuf dan Maria tidak mendapatkan tempat untuk kelahiran kecuali di kandang domba? Tidak maukah kita memberikan tempat bagi Yesus di hati kita? Jika kita memang mau bertumbuh di dalam-Nya, maka natal ini akan luar biasa karena hanya menyangkut tentang Dia dan bukan kita.

Terakhir sekali. Penasaran mengapa judul tulisan ini “Kipas Kristal?”. Ini adalah singkatan dari “Kristen Paskah dan Kristen Natal” yang merupakan fenomena yang kita lihat sekarang. Jadi jangan sampai fenomena ini menjadi benar di dalam diri kita dan lingkungan kita. Apalagi bila kita memikirkan hal ini sampai berkeringat dan menyejukkan diri dengan sbuah kipas kristal yang sesungguhnya. Hohoho.

^.^

CLU
-smiles 4 u-

Senin, 15 Februari 2010

Disciples

Shalom! Apa kabar semua?

Merasa pernah denger lagu rohani Indonesia yang musiknya nge-hip: Laskar Kristus? Juga, buat yang ikut retret kemarin, masih ingat lagu di bawah ini?



Semua rap pujian ini adalah hasil karya Disciples, sebuah grup musik rohani yang beraliran hip-hop. Banyak yang keliru mengira bahwa Disciples adalah nama lain dari Saykoji, tapi sebenarnya mereka beda. Disciples beranggotakan empat orang, dan salah satu personilnya, merangkap frontman, adalah Bang Igor 'Saykoji'. Jadi, mulai sekarang bedakan Disciples dengan Saykoji ya!

Mereka telah mengeluarkan 2 album yang berjudul "HIP-HOP ON A HIGHER LEVEL" dan "SWITCH". Asyiknya, mereka tidak melarang kita "membajak" album-album mereka, dan itu mereka utarakan di skit pertama album kedua. Mereka malah ingin lagu-lagunya disebarluaskan untuk kemuliaan Tuhan.  Disciples malah memberi tautan di forum AkuPercaya, di thread ini.

Disciples juga punya blog pribadi di sahabatdisciples.blogspot.com, dan akun Facebook di /disciplesindonesia. Semua lirik lagu mereka ada di catatan FB, jadi kamu tidak perlu repot-repot dengerin lagu untuk bisa hafal liriknya.

Well, berhubung ini adalah minggu Valentine, nih ada salah satu lagu Disciples yang bertemakan cinta, didasari langsung oleh Alkitab, judulnya Itu Namanya Cinta. 'Met dengerin, dan selamat Hari Valentine, semuanya! Ingat untuk memberikan kasih yang diajarkan Yesus pada kita ke semua orang.



Sabtu, 19 Desember 2009

Angka Spesial

1, 2, 3, dan 6 merupakan kombinasi angka spesial bagi saya. Tentu tiap orang punya angka-angka spesial tersendiri, bukan?

116 itu digit terakhir NIM saya,
126 itu nomer rumah yang sedang saya rindukan 'tuk kembali hingga setengah tahunan mendatang,
dan 316 itu NOMOR PENGHARAPAN...

Yoh 3:16 : "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Kalau angka saja bisa spesial, terlebih kamu yang telah dianugerahkan keselamatan lewat kelahiran-Nya yang kita kenal dengan 'Natal' dan karya penebusan-Nya yang kita kenal dengan 'Paskah'.

Mengutip status facebook dari Ko Sutrisna Harjanto a.k.a Ko' Iim yang cukup membuat hati saya terhenyuk...

Meski dunia mengajarkan kita untuk menggenggam lebih banyak,
biarlah Natal mengajarkan kita untuk rela melepaskan apa yang ada dalam genggaman. (Fil 2:6-8)

Meski dunia mengajarkan kita bahwa kepenuhan hidup ada dalam meraih segala sesuatu,
biarlah Natal mengajarkan bahwa kepenuhan hidup ada di dalam kerelaan melepaskan segala sesuatu, mati terhadap diri sendiri, supaya daripadanya muncul banyak buah. (Yoh 12:24)"


'Met menyambut Natal dengan sukacita! Belajarlah akan makna Natal yang sesungguhnya...


Oleh : meliza 766hi ;)
*sebenarnya mau menambahkan satu angka lagi, tapi takut dibilang terlalu rasis.. hahaha..
pengennya menambahkan angka 7 dengan kombinasi 766 sebagai pembentuk nada 'garis-keturunan-batak' a.k.a 'marga' haha >:)

Minggu, 12 April 2009

Sungguh, Dia Sudah Bangkit!

Markus 16:1-8

Apa bukti Yesus sudah bangkit dari kematian? Kubur yang kosong? Namun kalau hanya sebatas kubur kosong tentu banyak sanggahan bisa diberikan. Kubur itu kosong karena ada yang mencuri mayat Yesus dan menyembunyikannya, lalu meniupkan kabar bohong bahwa Yesus sudah bangkit.

Atau bisa juga karena para wanita mengunjungi kubur yang salah, sebab mereka pergi waktu pagi-pagi buta, saat hari masih gelap. Kemungkinan lain, kubur itu kosong karena Yesus sebenarnya tidak mati, melainkan pingsan. Jadi tidak ada kebangkitan karena Yesus memang belum mati.

Kubur kosong memang tidak dengan serta merta membuktikan bahwa Yesus sudah bangkit. Namun pernyataan hamba Tuhan, si malaikat yang berpenampakan anak muda itu, menjelaskan bahwa kubur itu kosong karena Yesus memang telah bangkit. Ini sesuai dengan nubuat PL (Yes. 53:10; lih. 1 Kor. 15:4), juga serasi dengan perkataan Tuhan Yesus sendiri kepada para murid-Nya (Mrk. 14:28). Catatan di pasal-pasal terakhir injil-injil menyatakan bahwa Yesus yang sudah bangkit itu menampakkan diri-Nya kepada para murid (Mat. 28:16-20; Luk. 24:13-49; Yoh. 20-21).

Maka perubahan sikap para murid, dari ketakutan sampai kemudian menjadi pengabar-pengabar Injil yang berani mati ke seluruh dunia adalah bukti kuat bahwa Tuhan mereka sungguh-sungguh sudah bangkit. Mereka mengimani sepenuhnya bahwa Yesus yang mereka beritakan memang sudah bangkit dari kematian dan mengalahkan kuasa maut.

Ada bukti yang lebih otentik lagi untuk menyatakan kebangkitan Tuhan, yaitu hidup orang Kristen yang Dia ubahkan. Keberanian memberitakan Injil, kasih yang tulus kepada sesama, karakter yang semakin hari semakin menyerupai Kristus merupakan kesaksian nyata yang kuat dan tidak terbantahkan dari para pengikut Yesus. Sebab itu, bila Anda mengaku percaya kepada Kristus yang sudah bangkit, tunjukkanlah itu dengan hidup Anda yang sudah dan sedang mengalami kuasa kebangkitan itu.


Happy Easter all..

-dikutip dari http://www.ppa.or.id -

Sabtu, 27 Desember 2008

Tradisi Natal

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:

"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."

Tradisi adalah identitas. Semua bangsa, suku bangsa, Negara, budaya, agama mampunyai tradisinya masing-masing. Demikian juga agama Kristen. Di dalam menjalani tradisi apapun kita harus mengerti prinsip yang diajarkan alkitab. Semua praktek adalah implikasi dari prinsip. Prinsip yang benar akan menghasilkan praktek yang benar dan dikonfirmasi oleh Tuhan. Agama kristen mempunyai 2 tradisi besar yaitu natal dan paskah. Tradisi natal berbeda dari tradisi paskah, karena tradisi paskah (peringatan kematian Yesus) dimandatkan oleh Yesus sendiri, namun semasa hidupnya Yesus tidak pernah member mandate untuk memperingati ulangtahunnya, dan Dia sendiripun tidak pernah melakukannya.Di dalam Tradisi Yahudi memang tidak pernah terjadi perayaan ulang tahun,hal ini disebabkan karena bagi bangsa Yahudi perayaan ultah diasosiasikan dengan orang kafir. Oleh sebab itu kata merayakan (celebrate) kurang baik digunakan pada natal Karena kita tidak merayakan ulang tahunNya,lebih tepat apabila kita menggunakan kata “Memperingati” karena pada hari natal kita memperingati datangnya Juruselamat ke dalam dunia.

Ada 3 Tradisi natal yang wajib untuk kita jalankan:


1. Memperingati natal berarti memperingati Inkarnasi

Inkarnasi adalah masuknya Allah kedalam sejarah.Inkarnasi bukan kelahiran.Kelahiran hantalah titik mula dari Inkarnasi,hanyalah 1 titik dalam Inkarnasi. Inkarnasi berarti pra-eksistensi dari yang ada menjadi ada.Ini berbeda dengan kelahiran, kelahiran adalah dari yang tidak ada menjadi ada. Yesus sebelum dilahirkan sudah ada,maka dia berinkarnasi, kelahiran hanyalah cara yang Yesus pakai untuk masuk dalam sejarah. Yesus bias saja menggunakan banyak cara untuk masuk kedalam sejarah. Dia bisa saja muncul langsung dewasa di dalam dunia, tetapi dia memakai cara manusia yaitu lahir sebagai bayi, lahir dalam keterbatasan,seorang bayi adalah manusia yang paling terbatas,Yesus mau mengalami proses manusia agar dia menjadi pengantara yang sempurna adtara Bapa dan manusia, sebab dia sudah pernah mengalami derita manusia, Dia bukan Pengantara yang menjadi manusia langsung dewasa. Inilah yang membuat Yesus manusia yang sejati dan pengantara yang baik.

Yesus lahir memang tanpa melalui pembuahan tapi ini tidak bbisa dijadikan alasan untuk menyangkal kemanusiaan Yesus,karena sebelumnya sudah ada manusia yang ada juga bukan karena pembuahan yaitu adam dan hawa.

Yesus turun kedalam dunia ditengah krisis dan kebobrokan zaman menjadi contoh bagi manusia bagaimana harus hidup,namun terlebih dari semuanya Inkarnasi Kristus adalah untuk penebusan,kelahiran Yesus adalah Suffering bukan celebration, hamper semua orang-orang yyang terlibat menderita,Maria,Yusuf,Majus,dan bahkan Yesus sendiri. Kelahiran Yesus identik dengan penderitaan dan pengorbanan maka adalah hal yang tidak layak jika kita memperingati natal dengan perayaan.

2. Natal yang Sederhana

Seperti yang sudah dibahas, semua sisi dalam alkitab merayakan natal identik dengan penderitaan. Inkarnasi adalah kehinaan besar bagi Yesus, dalam PL Yesus sudah pernah turun kebumi,semua orang penting tunduk pada Yesus,di dating dengan dikawal malaikat kepada Abraham,kepada Musa. Namun sekarang dia harus turun dalam kehinaan, bukan dalam nuansa kerajaan,bahkan bukan di tempat manusia melainkan di tempat binatang. Di dalam kehidupan Yesus status kehidupannya di bagi 2: Status kehinaan (lahir,mati disalib,di kubur) dan status pemuliaan (naik, bangkit, maranatha). Pada suatu sisi ada penderitaan,pada sisi lain ada pemuliaan ini seperti paradox, namun ini mengajarkan pada kita untuk tidak boleh bahagia diatas penderitaan orang, karena Yesus sendiri adalah orang yang menderita

3. Penginjilan

Di dalam Lukas 2:10 kata diberitakan mengunakan kata euaggelizomai yang berarti memberitakan kabar baik, penginjilan adalah esensi dalam kelahiran natal. Orang majus dan para gembala adalah objek penginjilan natal yang pertama, dan malaika-malaikat adalah pemberita injil pertama di hari natal, apabila kita mengamati silsilah Yesus Kristus maka akan kita dapati 4 macam strata pada silsislah itu: Orang penting (Abraham,musa),Raja-raja,Orang yang tidak diketahui,dan Orang terbuang (perempuan dan orang nan Yahudi). Hall ini menggambarkan Yesus dating kedunia bagian semua orang kaya atau miskin,Jendral atau anak buah,presiden,raja,pengemis, siapapun mereka Yesus datang kepada mereka, oleh sebab itu adalah kewajiban kita ketika memperingati natal kita kembali mengingat mereka. Membawa jiwa kepada Tuhan,Seperti orang majus dari Timur dibawa oleh terang kepada Tuhan agar kiranya genaplah nats bangsa dalam kegelapan boleh melihat Terang yang besar.



Selain 3 tradisi yang alkitab ajarkan kita akan melihat 3 Tradisi yang baik untuk dijalankan namun tidak ditulis secara langsung di Alkitab

1. Lilin

Yesus berkata Akulah Terang dunia, bangsa yang hidup didalam kegelapan telah melihat Trang besar, dan banyak bagian alkitab yang mengidentifikasikan Kristus sebagai terang yang telah datang, maka tidaklah salah kalau kita menyalakan lilin sebagai peringatan datangnya Terang itu ke dunia,Terang itu telah menjadikan kita semua terang untuk menrangi dunia (Mat 5),kita pun sekarang adalah terang dunia,ketika kita menyalakan lilin maka kita mengingat status dan tanggung jawab kita di dunia untuk mengikuti teladan Yesus menerangi dunia.

2. Paduan Suara

Ketika Yesus lahir,malaikat-malaikat bersorak memuji dia, kemuliaan bagi Allah, seluruh bala sorga memuji keagungan sang Raja yang mau rela merendahkan diri menbatasi diri turun kedalam dunia yang hina dan penuh cobaan, hari ini jikalau kita datang di hari natal kita memuji kebesaran Yesus itu adalah baik.Seperti malaikat memuji Tuhan hendaklah kita juga memuji kebesaran Tuhan Kita

3. Persembahan Syukur

Orang majus datang dengan emas,mur dan kemenyan. Mereka memberikan persembahan kepada Tuhan,tetapi pada hari ini,kita identik dengan menerima kado-kado natal. Ini sama sekali bertentangan dengan alkitab bukan minta kado,atau tukar kado tapi member persembahan khusus di hari natal. Pada zaman kelahiran Yesus,persembahan diberikan pada Raja apabila kalah berperang sebagai upeti, Yesus adalah raja kita dan kita adalah budaknya, budak tidak pernah minta dari raja,sebaliknya budak akan member bagi raja.Adakah kita memberi persembahan khusus di hari natal?



Selain itu kita juga melihat 3 Tradisi yang tidak berhubungan dengan natal yang dijalankan sampai sekarang

1. Sinterklas

St. Nicolaus adalah seorang Kristen yang baik hati,dia ahidup sekitar abad 3 M.orang tuanya mati ketika dia masih kecil,namun dia adalah orang yang kaya,dia terinspirasi pada bagian alkitab tentang orang kaya yang Yesus suruh untuk menjual seluruh hartanya dan membagikannya kepada orang miskin,karenanya orang-orang sangat mengargai dia, Nicolaus sendiri meninggal tanggal 6 desember,dan orang-orang mempertingati tanggal ini sebagai St. Nicolaus day. Namun karena bagi gereja advent tanggal ini adalah hari penantian datangnya Kristus,akhirnya tradisi ini digabung dengan natal,sebetulnya St. Nicolas day dan natal adalah 2 hari yang betul-betul berbeda dan tidak ada hubungannya sama sekali. Oleh sebab itu tidaklah sepatutnya kita mengidentifikasikan natal dengan Sinterklas

2. Pohon natal

Pohon natal berasal dari Tradisi pohon cemara yang digunakan untuk merayakan dewa Mitras (matahari) pada sekitar abad 3-4 M,akhirnya tradisi inii diadopsi oleh orang Kristen,pada awalnya tradisi ini banyak ditentang oleh kekristenan mula-mula. Namun suatu ketika, Martin Luther yang melihat pohon cemara pada musim salju dan melihat bintang-bintang yang tampak dari balik pohon itu sangat indah maka Luther memulai semacam tren baru,di amenebang pohon cemara tersebut dan memansang di rumahnya. Pohon natal ini Juga bertambah popular semenjak ratu Victoria dan keluarga berfoto dengan beckground pohon natal, karena keluarga raja adalah contoh bagi rakyat,maka mulai lah tren pohon natal di Inggris dan sampai saat ini di seluruh dunia.

3. Kartu ucapan

Kartu ucapan dipopulerkan oleh Cole (1843).Sebenarnya tidak begitu salah untuk mengirimkan kartu atau ucapan natal, sebab ucapan kita terkadang bias menguatkan sesame,terutama dengan mengutip ayat-ayat yang baik dan ucapan-ucapan yang menbangun dan menguatkan,namun adalah sala kalau natal diidentikan dengan ucapan,sebab adalah keharusan setiap saat kita saling menguatkan.

Kita telah melihat 3 tradisi yang alkitabiah,3 tradisi yang baik dan 3 tradisi yang salah,saudara-saudara jadikanlah natal lebih bermakna kembalilah kepada prinsip yang alkitab ajarkan bukan perayaan,pohon natal namun tradisi natal yang sejati yang alkitab ajarkan.


Hohoho.. met natal :D .. moga natal kali ini membawa damai dan kasih Kristus... natal yang penuh perenungan dan makna..

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. -LD'08 -

Rabu, 10 Desember 2008

Lari Maraton

Maraton adalah salah satu cabang olahraga atletik yang amat terkenal. Tidak seperti lari 100 meter atau 400 meter, setiap peserta maraton wajib menempuh lebih dari satu kilometer untuk memenangkan pertandingan. Sungguh suatu jarak yang jauh dan membutuhkan stamina kuat untuk tetap berlari!
 
Ada beberapa tips dalam berlari jarak jauh:
  1. jangan gugup, tenangkan diri dahulu dengan mengambil nafas panjang-panjang;
  2. persiapkan peralatan yang akan kau gunakan dalam perlombaan dengan baik;
  3. jangan minum atau makan terlalu banyak sebelum pertandingan dimulai;
  4. mulailah posisi start dengan baik, karena akan menentukan langkah pertama yang diambil;
  5. jangan terlalu terburu nafsu untuk menyusul orang-orang, jaga stamina dan berlarilah dengan stabil;
  6. bertekunlah berlari, jangan pernah melambatkan kecepatan atau berjalan;
  7. arahkan pandangan ke tempat finish dan ‘hadiahnya’, sehingga kau termotivasi karenanya;
  8. atur nafasmu baik-baik, jangan bernafas dengan menggunakan mulut karena akan mengakibatkan tenggorokanmu kering sehingga mengganggu pernafasan;
  9. setelah hampir sampai di tempat finish, kencangkan larimu; dan
  10. bersoraklah dengan sekuat tenaga saat akhirnya kau berhasil mencapai garis finish!
Suatu hal yang tidak mudah untuk diterapkan, banyak sekali aturan dan tips ini-itu hanya untuk ‘berlari’. Tetapi kita bisa melihat persamaan antara maraton dan ‘pertandingan iman’ yang disebutkan Rasul Paulus. Rasul Paulus menyuruh kita untuk berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita (Ibr 12:1). Kita berlomba, kita berlari. Paulus menyuruh kita bertekun dalam iman, mengapa? Karena biasanya orang-orang memulai posisi ‘start’ dengan ‘kecepatan penuh’ dan tidak memiliki stamina yang baik akan memelankan ‘larinya’. Jika kita bertekun, walau lambat dan tahu takkan jadi juara, paling tidak kita akan mencapai garis finish dengan perasaan bangga.

Poin ke-6 penting untuk mendorong kita untuk maju dan terus berlari. Dalam perlombaan iman, Rasul Paulus mengajukan satu tip supaya kita tetap memelihara iman kita, yaitu "Melakukan pertandingan iman dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan." (Ibr 12:2). Garis finish kita adalah Yesus, dan hadiah yang akan kita dapatkan setelah perlombaan usai dan mencapai garis finish adalah ‘kesempurnaan’ (ayat 2). Bukankah dengan dua hal itu kita akan termotivasi untuk terus ‘berlari’? ‘Mata yang tertuju pada Yesus’ sangat penting karena di garis finish, Yesus sedang menyemangati kita, meneriakkan yel-yel dan di belakang-Nya ada selegiun malaikat sedang menari pom-pom untukmu. Setelah melihat Dia, yang begitu semangatnya menyemangati kita untuk terus berlari, apakah kita akan berlambat-lambat dan menghentikan laju lari kita?

(vin)

Selasa, 09 Desember 2008

Christmas–What's That?



(vin)

Sabtu, 22 November 2008

He'll Never Leave You

...dan ketahuilah, Aku menyertaimu senantiasa...
(vin)

Jumat, 21 November 2008

Menilai, Menghakimi, Allah Mahatahu

Berkat atau Kutuk

Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki seekor kuda putih yang cantik. Bahkan raja menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum pernah dilihat begitu kemegahannya, keagungannya dan kekuatannya.

Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak, "Kuda ini bukan kuda bagi saya," ia akan mengatakan. "Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat?" Orang itu miskin dan godaan uang amatlah besar. Namun, ia tetap tidak menjual kuda itu.

Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya. Orang-orang desa datang menemuinya. "Orang tua bodoh," mereka mengejek dia, "sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami sudah peringatkan bahwa kamu akan dirampok. Kamu begitu miskin. Mana mungkin kamu dapat melindungi binatang yang begitu berharga? Harusnya kamu menjualnya sejak awal. Kamu boleh minta harga berapa saja. Harga setinggi apapun akan dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan kamu dikutuk oleh kemalangan."

Orang tua itu menjawab, "Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana kalian dapat tahu? Bagaimana kalian dapat menghakimi?"

Orang-orang protes, "Jangan menyebut kami orang bodoh! Mungkin kami bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak diperlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah kutukan."

Orang tua itu berbicara lagi, "Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan. Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti?"

Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol; kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Dia seorang tukang potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.

Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak dicuri, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul di sekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan, "Orang tua, kamu benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat. Maafkan kami."

Jawab orang itu, "Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah kembali. Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia, tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkat? Kalian hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana anda dapat menilai? Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu luas, namun kalian menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang kalian tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu."

"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu kepada yang lain. Jadi mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang.

Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul sekitar orang tua itu dan menilai.

"Kamu benar," kata mereka, "Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar. Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk membantumu. Sekarang kamu lebih miskin lagi."

Orang tua itu berbicara lagi, "Ya, kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkat atau kutukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong."

Dua minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orang tua itu yang tidak diminta karena ia sedang terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka mungkin tidak akan melihat anak-anak mereka kembali.

"Kamu benar, orang tua," mereka menangis, "Tuhan tahu kamu benar. Ini membuktikannya. Kecelakaan anakmu merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya".

Orang tua itu berbicara lagi, "Tidak mungkin untuk berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini: anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui. Hanya Allah yang tahu."

*****

Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.

Saya tidak tahu dari mana si tukang kayu belajar menjaga kesabarannya. Mungkin dari tukang kayu lain di Galelia. Sebab tukang kayu itulah yang paling baik mengungkapkannya: "Janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri."

Ia adalah yang paling tahu. Ia menulis cerita kita. Dan Ia sudah menulis bab yang terakhir.
In The Eye of The Storm - Max Lucado. (vin)

Yakobus 6

Seorang pendeta mengakhiri khotbahnya dengan memberitahukan topik kotbah berikutnya. "Minggu depan saya akan membahas masalah kebohongan. Bahannya akan saya ambil dari Kitab Yakobus pasal 6. Kalau Anda ada waktu, silakan mempelajarinya."

Minggu depannya, sebelum berkotbah ia bertanya, "Apakah ada di antara Anda yang sudah membaca Yakobus pasal 6?" Beberapa tangan terangkat. "Terima kasih. Saya rasa saya mendapatkan ilustrasi yang sangat tepat untuk khotbah saya kali ini." (vin)

Sabtu, 08 November 2008

Hope



(vin)

Kamis, 06 November 2008

Jigsaw Puzzle

Terinspirasi ama blog seseorang tentang jigsaw puzzle.

Jigsaw: A puzzle in which the player has to put together a picture that has been cut into irregularly shaped interlocking pieces. (http://www.thefreedictionary.com/jigsaw).

Pernah main puzzle kan ya? Asumsi pernah deh. Kalo puzzle-nya masih level anak-anak, mungkin dengan mudahnya kita bisa nyatuin (dengan umur sekarang). Tapi kalo dikasih jigsaw puzzle yang susah, rumit, very high level mungkin butuh waktu yang lama untuk nyatuin potongan-potongan puzzle itu. Terkadang ketemu banyak kepingan puzzle, tapi bingung milih yang mana yang cocok/pas.

Life is like completing your own jigsaw puzzle... Ada banyak potongan yang harus kita satuin, tapi apakah kita dengan gampangnya menyerah saat menemukan kesulitan? Atau adakah kita hanya mengandalkan diri sendiri? Atau kah kita meminta pertolongan dan mengandalkan sang pembuat puzzle itu?


Berharap kita semua bisa nyatuin potongan puzzle kehidupan, no matter how hard it is! "With the Jigsaw Maker always on your side, you'll never ever quit too soon. " (mlz)