Rabu, 10 Desember 2008

Lari Maraton

Maraton adalah salah satu cabang olahraga atletik yang amat terkenal. Tidak seperti lari 100 meter atau 400 meter, setiap peserta maraton wajib menempuh lebih dari satu kilometer untuk memenangkan pertandingan. Sungguh suatu jarak yang jauh dan membutuhkan stamina kuat untuk tetap berlari!
 
Ada beberapa tips dalam berlari jarak jauh:
  1. jangan gugup, tenangkan diri dahulu dengan mengambil nafas panjang-panjang;
  2. persiapkan peralatan yang akan kau gunakan dalam perlombaan dengan baik;
  3. jangan minum atau makan terlalu banyak sebelum pertandingan dimulai;
  4. mulailah posisi start dengan baik, karena akan menentukan langkah pertama yang diambil;
  5. jangan terlalu terburu nafsu untuk menyusul orang-orang, jaga stamina dan berlarilah dengan stabil;
  6. bertekunlah berlari, jangan pernah melambatkan kecepatan atau berjalan;
  7. arahkan pandangan ke tempat finish dan ‘hadiahnya’, sehingga kau termotivasi karenanya;
  8. atur nafasmu baik-baik, jangan bernafas dengan menggunakan mulut karena akan mengakibatkan tenggorokanmu kering sehingga mengganggu pernafasan;
  9. setelah hampir sampai di tempat finish, kencangkan larimu; dan
  10. bersoraklah dengan sekuat tenaga saat akhirnya kau berhasil mencapai garis finish!
Suatu hal yang tidak mudah untuk diterapkan, banyak sekali aturan dan tips ini-itu hanya untuk ‘berlari’. Tetapi kita bisa melihat persamaan antara maraton dan ‘pertandingan iman’ yang disebutkan Rasul Paulus. Rasul Paulus menyuruh kita untuk berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita (Ibr 12:1). Kita berlomba, kita berlari. Paulus menyuruh kita bertekun dalam iman, mengapa? Karena biasanya orang-orang memulai posisi ‘start’ dengan ‘kecepatan penuh’ dan tidak memiliki stamina yang baik akan memelankan ‘larinya’. Jika kita bertekun, walau lambat dan tahu takkan jadi juara, paling tidak kita akan mencapai garis finish dengan perasaan bangga.

Poin ke-6 penting untuk mendorong kita untuk maju dan terus berlari. Dalam perlombaan iman, Rasul Paulus mengajukan satu tip supaya kita tetap memelihara iman kita, yaitu "Melakukan pertandingan iman dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan." (Ibr 12:2). Garis finish kita adalah Yesus, dan hadiah yang akan kita dapatkan setelah perlombaan usai dan mencapai garis finish adalah ‘kesempurnaan’ (ayat 2). Bukankah dengan dua hal itu kita akan termotivasi untuk terus ‘berlari’? ‘Mata yang tertuju pada Yesus’ sangat penting karena di garis finish, Yesus sedang menyemangati kita, meneriakkan yel-yel dan di belakang-Nya ada selegiun malaikat sedang menari pom-pom untukmu. Setelah melihat Dia, yang begitu semangatnya menyemangati kita untuk terus berlari, apakah kita akan berlambat-lambat dan menghentikan laju lari kita?

(vin)

3 komentar:

joice_EL'06 mengatakan...

Analogi yang bagus...
tingkatkan ya...

Anonim mengatakan...

kalo mau posting artikel gimana??

PMK ITB mengatakan...

@ anonim : kirim ke email ajaaaa
pmk.itb@gmail.com

makasih :D